Kamis, 24 Maret 2022

*PELESTARIAN TRADISI ADAT BUDAYA JAWA KUNO*

Mendak kematian adalah istilah yang di gunakan dalam memperingati kematian setelah satu tahun pasca kematian, sebenarnya masih banyak tradisi jawa yang lain dalam memperingati hari kematian, mulai dari nelung dino (tiga hari), mitong dino (tujuh hari),  matang puloh (empat puluh hari), nyatos (seratus hari), mendak pisan (satu tahun perta), mendak pindo (dua tahun ), dan yang terahir adalah nyewu (seribu hari) pasca kematian, setelah seribu hari, istilahny berubah menjadi haul, yg dalam bahasa arab berarti satu tahun, sebutan haul di pakai untuk satu tahun berikutnya setelah nyewu (seribu hari).

Kalau di runtut dari sejarah, sebenarnya peringatan hari kematian adalah mutlaq warisan budaya jawa kuno (hindu jawa), kemudian para ulama, khususnya ‘’wali songo’’ dalam berdakwah atau menyebarkan agama islam dengan cara memasukkan ajaran-ajaran islam ke dalam tradisi atau ritual yg biasa di lakukan oleh masyarakat  jawa  kuno, hal ini tujuannya untuk memudahkan dalam menyebarkan ajaran agama islam (khususnya di pulau jawa), tidak hanya itu saja, msih banyak tradisi jawa yang di pakai ‘’wali songo’’ sebagai mediator penyebaran agama islam,  mulai dari pewayangan, gamelan, ziarah kubur, tahlilan, larangan menyembelih sapi di daerah kudus, dan lain sebagainya.
 
Sebagai media untuk mendekatkan diri kepada sang Pencipta atas segala karunia yang telah diberikan serta untuk mengenang dan mendoakan para leluhur pendahulu yang telah pulang kehadirat NYA, Namun disisi lain hal ini juga sebagai wadah pemersatu warga untuk ikut menciptakan masyarakat yang bertoleransi antar umat beragama yang damai, tenteram dan berbahagia serta untuk ikut menjaga dan melestarikan tradisi kerakyatan adat budaya jawa.  Karena dalam acara mendak kematian yang diundang genduri adalah tidak hanya tetangga yang  muslim atau beragam islam, namun yang beragama non muslimpun turut diundang. Meski tidak mengikuti bacaan doa yang dilantunkan oleh kaum atau rois pepimpin acara tersebut. 

Minggu 10 April 2023 bertempat di rumah Sdr. Khoirul Anam warga Rt. 02 Rw. 13 Tlogotirto Kalurahan Tlogorejo mengadakan genduri peringatan piling / 2 tahun meninggalnya Ibunda Khomsatun orangtuanya yang dipimpin Bapak Muh. Karyawanto, Kaum Rois Pedukuhan Tlogotirto dan dihadiri oleh Dukuh Tlogotirto dan tetangga sekitar sebanyak ± 60 orang. (WIR)